ketika cahaya memantul
kata-kata lahir membentuk sederet kalimat
dari laptopmu yang masih belum menyala
masihkah ada cinta di persimpangan usia?
keteduhan yang dititipkan kata
dalam baris-baris puisi yang lahir dari langit
langit merah di ruang mata -ucapmu
kertas-kertas buram terlukis wajah
wajah kita
: anak-anak pemanggul tawa
yang berlarian menjejak angin
dalam guratan putih hitam
menjaring mimpi bagai sarang laba-laba
kubayangkan engkau
mengalir bersama hujan
: air racikan kasih langit
menyusuri rekah tanah tubuhku
dalam titik-titik persimpangan
jejak yang membekas zaman
ingin sekali waktu kuakrabi
upacara perkabungan burung-burung
: perjanjian sunyi usai percintaan
lewat riuh anak-anak angin
yang berlari dalam gerimis
di bawah bulan penuh
doa mereka kirimkan
dalam ramuan bunga, dupa dan tirta
dari seluruh tubuhnya
melintas waktu aku merekam jejak
di setiap detak detik jam kota yang menua
melampaui jarak batas kehampaan
cuaca yang terperangkap resah
menyusun patah kata namamu
kunamakan kau senja
karena terlahir dari rahim langit
menyesap senyap kegersangan
musim purba jiwaku
merekam jejak percakapan burung-burung
: inikah takdir atau kilatan lalu?