Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

ketika malam mati

ketika malam mati
di luar pekat, menggali-gali diri. di dalam
ribuan cahaya menari-nari
memancari bumi

kisah yang tak selesai

ketika cahaya memantul
kata-kata lahir membentuk sederet kalimat
dari laptopmu yang masih belum menyala

masihkah ada cinta di persimpangan usia?
keteduhan yang dititipkan kata
dalam baris-baris puisi yang lahir dari langit
langit merah di ruang mata -ucapmu

senja sunyi

kepada el 

saat waktu membatas cahaya
inilah pertemuan juga perpisahan
     abadi kerinduan
anak-anak yang berenang di tubuhmu
menjadi nafas kita

mencari mimpi

dalam hidupku purba aku mencarimu
cahaya sempurna tubuh
usai kematian bagi seluruh musim
lalu kemana berlalu mimpi
ketika terjaga diusik pagi?

seperti kunang-kunang

karena mencintai malam kau menjelma
jadi cahaya
: kemilau yang lahir dari pekat
mungkinkah kematian?

abjad memerah saat purnama

abjad memerah saat purnama
tersapu lidah angin

anak panah dilesatkan penunggang kuda
menghalang cahaya yang bersinggahan
bersilangan! di tubuhmu
membekas jejak tanah basah
usai hujan pertama

engkau lahir dari batu

gelombang yang memermainkan tubuhmu
membentuk kemilau pada titik-titik cahaya
: gelap yang melahirkan terang

upacara

kertas-kertas buram terlukis wajah
wajah kita
: anak-anak pemanggul tawa
yang berlarian menjejak angin
dalam guratan putih hitam
menjaring mimpi bagai sarang laba-laba

sungai mati

setelah riakmu
: gelora kasih bumi langit
mengalir juakah engkau dalam diam?

bersama hujan

kubayangkan engkau
mengalir bersama hujan
: air racikan kasih langit
menyusuri rekah tanah tubuhku
dalam titik-titik persimpangan
jejak yang membekas zaman

dalam dirimu

dalam dirimu
kutemukan selembar kertas
menjadi rumah bagi seribu sajak
bahasa yang lahir dari tubuhmu
sempurna melukis waktu

setelah upacara perkabungan

ingin sekali waktu kuakrabi
upacara perkabungan burung-burung
: perjanjian sunyi usai percintaan
lewat riuh anak-anak angin
yang berlari dalam gerimis
di bawah bulan penuh
doa mereka kirimkan
dalam ramuan bunga, dupa dan tirta
dari seluruh tubuhnya

pada suatu ketika

pada suatu ketika kubiarkan
gerak angin membawamu
melabuhkan kerinduan bunga
pada kepak sayap kupu-kupu

merekam jejak

melintas waktu aku merekam jejak
di setiap detak detik jam kota yang menua
melampaui jarak batas kehampaan
cuaca yang terperangkap resah
menyusun patah kata namamu

kunamakan kau senja

kunamakan kau senja
karena terlahir dari rahim langit
menyesap senyap kegersangan
musim purba jiwaku
merekam jejak percakapan burung-burung
: inikah takdir atau kilatan lalu?