Perempuan Kupu-Kupu
sajak Wayan Sunarta
perempuan tua itu menjelma kupu-kupu
lalu membelit menjadi ular. lalu
menguap jadi embun. lalu
tumbuh menjelma bunga. lalu...
gadis mungil memetik bunga
dulu ia seorang nenek renta
dari tepi sungai kulihat perempuan belia
mencuci kenangan. membelai ranum payudara
dan samun turun membungkus tubuhnya
hanya puisi di sini. hanya
samun. perempuan tua itu
bicara padaku perihal kupu-kupu
yang tumbuh menjelma bunga
1997
Kuda Merah
sajak Umbu Landu Paranggi
Kuda merah musim buru, berapa kemarau panjang maumu
Jantung yang akan terus terbakar, satu baris puisi lagi
Peluki padang anak angin dan batu gunungku purbani
Melulur bayang-bayang cintaku di pasir waktu rahasia cintaku
Bhisma
sajak Wayan Sunarta
sebab kutuk dan janji
aku bertahan pada takdir ini
akulah bhisma
yang menatap hampa pada senja
beribu gagak
menggumpal hitam
di langit kurusetra
dan senja
muara abadi segala keluh
seperti abadi kesepianku
srikandhi, bentangkan busur panahmu
amba, bidikkan muram dendammu
biar melesat beribu anak panah biru
menyangga ragaku
mengukir takdir akhir
mengapa mesti ada duka
telah tumpas segala suka
saat surya rebah ke utara
aku pun tiba pada hampa
2001
Cahaya Waktu
- kepada ayah
sajak Nanoq da Kansas
aku berteduh di gigir isyaratmu
tapi aku jatuh cinta pada gunung
yang mengingatkan kemarau pada keheningan
o, air sungai!
maka seluas misterikah hatimu?
rinduku hanyut dalam dahaga zaman
lalu di gelombang kasihmu
aku terdampar jadi puisi
Cinta yang Sederhana
sajak Nanoq da Kansas
siapakah yang menyemaikan terang
ketika kabut demi kabut purba
dalam hatiku dalam hatimu
menjadi ladang-ladang harapan
senantiasa harapan
siapakah yang mengerjakan cinta
meniup gumpalan demi gumpalan rindu
dalam hatiku dalam hatimu
menjadi musim-musim pelangi
yang mematangkan usia kita
dan kepompong itu pun membuka rahasia
ketika hidup menyerahkan kepercayaannya
pada kekuatan sayap kupu-kupu
untuk kesempurnaan cahaya semesta
lalu bunga-bunga menjadi senyum bumi
dan aku, bolehkah jadi kupu-kupu?
Di Depan Pintu
sajak Sapardi Djoko Damono
di depan pintu: bayang-bayang bulan
terdiam di rumput. Cahaya yang tiba-tiba pasang
mengajaknya pergi
menghitung jarak dengan sunyi
Aku Danau; Aku Laut
sajak Tan Lioe Ie
Aku danau yang menadah bening hujan
Ikan-ikan dengan sirip letih
bermain di ganggang dan sejuk airku
Bulan, bintang yang ku punya
Hanya cahaya dan bayangan
Aku laut yang menampung keruh sungai
Kelapak duka camar terakhir
dititipkan di pucuk gelombangku
Sesekali kulepas rinduku pada pasir
Tapi selalu ada saat untuk surut menjauh
Aku Tak Lahir dari Senjamu
sajak Pranita Dewi
hinggap di bibir takdir
aku sendiri
terpencar dalam belukar
derai ngaraimu
lahirkan setangkup kembang
dari sisa-sisa angan
suram menjalar pada kening mimpi
lalui dalamnya hampa
lukiskan parasmu
seringan lenguh
akankah terkenang serangkai kembang
yang hilang dalam dentang lonceng
meski aku tak lahir dari senjamu
2003