Cari Blog Ini

upacara

kertas-kertas buram terlukis wajah
wajah kita
: anak-anak pemanggul tawa
yang berlarian menjejak angin
dalam guratan putih hitam
menjaring mimpi bagai sarang laba-laba

kita berdiri sini
berderet-deret saling bersilangan
sepasang kekasih bercumbu
di rumus-rumus yang terpahat dalam
dalam tubuh kita

tapi dimana kita ketika pintu terbuka?
sementara zaman telah menorehkan
kemudian memutuskan sejarah

maka tanam saja setiap kerinduan
pada ruang perpustakaan, laboratorium, kaca jendela
tembok-tembok tua, juga meja-meja kayu
memeram seluruh mimpi yang lahir
dari buku-buku yang tak sengaja kita bakar
saat riuh menjelang usai upacara


wendra wijaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar