Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Jiwa yang Terpenjara


GOBLEK masih terdiam, hirau dengan keriangan dan riuh pesta perayaan. Wajahnya kuyu. Di panggung kehormatan, ia memandang iring-iringan pawai yang melintas, mengamatinya dengan tatapan nanar. Tubuh-tubuh dekil dan kerdil berhasil dikelabui dengan balutan busana indah dan gemuruh gamelan. Tapi kegelisahan seniman-seniman tradisi itu, ia bisa melihatnya. Suara bertalu serupa jerit kemalangan yang masih akrab menyapa mereka itu mengusik keheningan hatinya, meruntuhkan kebanggaan setelah bertahun-tahun melangkah dalam kemenangan yang gemilang.
"Kami adalah orang-orang yang merayakan hidup dengan sederhana, yang mengikhlaskan diri terhadap apa saja. Dengan berkesenian, jiwa kami merdeka. Dengan berkesenian, kami berusaha mencari kunci untuk membuka penjara-penjara tubuh kami. Kami adalah orang-orang sederhana, yang menjalani dan memaknai hidup dengan sederhana. Kami bernama kebebasan."