GOBLEK masih terdiam, hirau dengan
keriangan dan riuh pesta perayaan. Wajahnya kuyu. Di panggung kehormatan, ia
memandang iring-iringan pawai yang melintas, mengamatinya dengan tatapan nanar.
Tubuh-tubuh dekil dan kerdil berhasil dikelabui dengan balutan busana indah dan
gemuruh gamelan. Tapi kegelisahan seniman-seniman tradisi itu, ia bisa
melihatnya. Suara bertalu serupa jerit kemalangan yang masih akrab menyapa
mereka itu mengusik keheningan hatinya, meruntuhkan kebanggaan setelah
bertahun-tahun melangkah dalam kemenangan yang gemilang.
"Kami adalah orang-orang yang merayakan hidup dengan sederhana, yang mengikhlaskan diri terhadap apa saja. Dengan berkesenian, jiwa kami merdeka. Dengan berkesenian, kami berusaha mencari kunci untuk membuka penjara-penjara tubuh kami. Kami adalah orang-orang sederhana, yang menjalani dan memaknai hidup dengan sederhana. Kami bernama kebebasan."