GOBLEK masih terdiam, hirau dengan
keriangan dan riuh pesta perayaan. Wajahnya kuyu. Di panggung kehormatan, ia
memandang iring-iringan pawai yang melintas, mengamatinya dengan tatapan nanar.
Tubuh-tubuh dekil dan kerdil berhasil dikelabui dengan balutan busana indah dan
gemuruh gamelan. Tapi kegelisahan seniman-seniman tradisi itu, ia bisa
melihatnya. Suara bertalu serupa jerit kemalangan yang masih akrab menyapa
mereka itu mengusik keheningan hatinya, meruntuhkan kebanggaan setelah
bertahun-tahun melangkah dalam kemenangan yang gemilang.
"Kami adalah orang-orang yang merayakan hidup dengan sederhana, yang mengikhlaskan diri terhadap apa saja. Dengan berkesenian, jiwa kami merdeka. Dengan berkesenian, kami berusaha mencari kunci untuk membuka penjara-penjara tubuh kami. Kami adalah orang-orang sederhana, yang menjalani dan memaknai hidup dengan sederhana. Kami bernama kebebasan."
Ia terhenyak. Suara-suara itu,
ya, suara yang hanya menyerupai bisik itu menghujamnya, menyudutkannya ke satu
ruang kosong tak bernama, menghempasnya ke dalam suatu masa yang entah. Dulu,
suara-suara itu bukanlah anak panah yang dilesatkan untuk menghujam dan
mencabik-cabik dirinya. Suara itu bukanlah jerit mahluk yang terluka, yang
terabaikan dalam ambisi besar kekuasaan. Dulu, suara itu adalah nyanyian rindu.
Senandung yang dilantunkan sebagai puja-puji atas pencapaian peradaban.
Senandung yang dilantunkan sebagai perayaan atas kehidupan. Senandung yang
dilantunkan sebagai sebentuk doa bagi dirinya. Senandung yang dilantunkan
sebagai....
"Pak,sudah waktunya menerima
cendera mata."
Karto membuyarkan lamunan Goblek,
mengembalikan kesadarannya. Orang kepercayaan Goblek itu hanya terpana.
Wajahnya menggambarkan kebingungan. Kegundahan.
"Oh, iya....," sahut
Goblek seraya berdiri. Ia menerima cendera mata dari seniman-seniman tradisi
itu. Entah kenapa, kali ini Goblek sulit tersenyum. Berkali-kali ia mencoba
memberi senyum seperti pada hari-hari sebelumnya, bulan-bulan sebelumnya,
tahun-tahun sebelumnya. Senyum itu tak lagi mengembang seperti biasanya.
Wajahnya kini kaku. Ia gugup, lalu kembali menghempaskan diri dan terduduk.
"Ada apa, Pak? Bapak tidak
enak badan?" Karto membisik di telinganya.
Goblek masih terdiam. Tatapannya
kosong, pikirannya kosong. Atraksi apik yang lalu lalang di depannya tak juga
mampu menghibur kesepiannya, menghapus kekalutannya. Justru, gemuruh itu
semakin mencabik-cabik hatinya. Semakin dalam.
"Pak?" buru Karto.
Goblek menolehnya. Lama ia
memandang Karto yang selama ini setia mendengar keluh dan kegalauannya. Seorang
bawahan sekaligus sahabat yang selalu mendampingi dirinya.
"Tidak Karto, saya tidak
apa-apa," jawab Goblek singkat. Ia kembali hanyut dalam lamunannya.
Membawa pikirannya melintas waktu, jauh meninggalkan riuh pesta perayaan.
GELOMBANG aksi mengantarkan
Goblek menduduki tampuk kekuasaan. Ketika itu, sekelompok massa menolaknya,
sementara massa lainnya menginginkan dirinya. Aparat keamanan bersiaga, tegang
menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang ada. Bentrok tak bisa dielakkan, meski
akhirnya berhasil mengangkat dirinya sebagai penguasa baru untuk memimpin
sekelompok orang dengan asal usul, suku bangsa, bahasa, dan kepercayaan yang
tak sama.
"Ah, mungkin itu harga yang
pantas untuk sebuah demokrasi. Dimana-mana, kekuasaan harus dibayar dengan
darah, atau air mata," batinnya.
Waktu berlalu dan hari-hari
semakin tak pasti. Ia menjelma pahlawan baru bagi rakyatnya dengan berbagai
terobosan dan keberhasilannya.
"Pemerintah ada untuk
rakyat. Rakyat bersama pemerintah harus bahu-membahu membangun daerah,
menempatkan tanah ini pada posisi yang tertinggi dan terhormat. Kalau rakyat
tidak sejahtera, untuk apa ada pemerintah? Lebih baik bubarkan saja!"
pidatonya yang lantang, tegas, dan menantang kembali terngiang.
Ia mengingat semua itu.
Kedigjayaan masa lalu yang diraihnya menjadi penggambaran nyata tentang
kemenangan dan keberhasilan. Jalanan ber-hot mix, pemberdayaan masyararakat
kecil petani dan nelayan berjalan baik, mengusahakan persamaan gender dengan
memberikan porsi yang cukup besar bagi kaum perempuan, pembangunan ikon-ikon
sebagai jati diri dan ciri khas wilayah, mengusahakan pendidikan dan kesehatan
bagi seluruh rakyatnya. Berbagai penghargaan kemudian mengaliri dirinya.
Seluruh negeri mengelu-elukan, berdecak kagum atas setiap gagasan dan
inovasinya. Goblek menjadi pusat pembelajaran, menjadi laboratorium bagi setiap
orang yang ingin maju, menjadi inspirasi untuk membangun peradaban yang lebih
baik.
Tapi itu dulu, ketika orang-orang
masih memiliki senyum untuknya. Sebelum gaib melumat segalanya. Goblek hanya
bisa merekam jejak. Kini, kata-kata tak lagi bersahabat. Ia menyerang dari
ruang-ruang sunyi. Di lembar-lembar koran, huruf-huruf terluka menyayat
namanya. Orang-orang membanting-banting dirinya. Menghujatnya, memakinya. Membenamkan
Goblek, menghakimi setiap kata yang diucapkannya.
GAMELAN masih menggemuruh, tetap
merupa sayatan kesedihan. Lirih, merintih. Senja tak lagi anggun, dan jingga.
Gelap mulai datang. Iringan-iringan pawai masih tetap bersemangat. Langkah
mereka masih tegap, walau kerikil-kerikil tajam mulai bertebaran, memenuhi ruas
jalan ibu kota. Mereka tertatih, tanpa keluh. Kerikil-kerikil itu dilintasi,
dengan ketegaran dan kebesaran hati yang sama.
Kami adalah orang-orang yang merayakan hidup dengan sederhana, yang mengikhlaskan diri terhadap apa saja. Dengan berkesenian, jiwa kami merdeka. Dengan berkesenian, kami berusaha mencari kunci untuk membuka penjara-penjara tubuh kami. Kami adalah orang-orang sederhana, yang menjalani dan memaknai hidup dengan sederhana. Kami bernama kebebasan."
Sesaat suntuk dan mengakrabi
kesendiriannya, Goblek terpana. Sayatan-sayatan kepedihan yang tersampaikan
lewat gemuruh gamelan membingungkan dirinya. Pikirannya kembali berkecamuk.
"Bagaimana mereka bisa
melewati kerikil setajam itu? Tidakkah itu akan menyakiti mereka?"
Goblek kembali membatin.
"Ah, mereka pasti
merasakannya. Sangatlah munafik kalau mereka mengingkari itu semua!"
Di luar kesadaran, emosinya
membuncah. Goblek menghardik. Ia meracau sendiri. Air liurnya muncrat, lalu
menggenang dan membanjiri jalur pawai. Dari dalam dirinya bermuntahan sampah.
Dari dalam dirinya bermuntahan kotoran. Dari dalam dirinya bermuntahan
tinja. Dari dalam dirinya
bermuntahan....
Teriak-teriak kepanikan menggema.
Panitia perayaan berusaha membersihkan jalanan. Sekeras apapun usaha, mereka
tetap gagal. Air liur tetap membanjir, menyapu setiap apa yang ada. Para
pejabat dan sejawat di kiri kanan dan belakangnya berhamburan. Mereka jijik
dengan busuk yang tercium dari genangan liur Goblek. Mereka memandangnya sinis,
memuntahkan isi kepala, lalu berpaling meninggalkannya.
Tetapi di depannya, orang-orang
itu, seniman-seniman itu, tetap melangkah. Masih dengan keikhlasan yang sama,
mereka tak hirau dengan apa yang terjadi di sekelilingnya. Gamelan tetap
menggemuruh, atraksi terus berjalan. Mereka menari, memberikan senyum yang
berbeda kepada Goblek. Sekulum keteduhan yang memanggil-manggil Goblek
melangkah bersama mereka. Untuk memaknai setiap perayaan kehidupan sesederhana
mereka.
"Karto! Bagaimana ini bisa
terjadi?"
"Ini memang harus terjadi,
Pak."
"Apa maksudmu?"
"Ini memang harus terjadi,
Pak."
"Jawab pertanyaanku!"
"Berhati-hatilah dengan
kata. Kata memiliki kekuatan yang maha dasyat. Ia bisa memperbaiki sekaligus
merusak setiap apa. Ia bisa membangun sekaligus meleburkan. Ia bisa memberi
kehidupan sekaligus membunuhnya. Jangan sekali-sekali bermain dengan kata,
Pak."
"Aku tak paham maksudmu,
Karto!"
"Janganlah bermain dengan
kata-kata, Pak, apalagi kalau jiwa masih terpenjara."
"Jiwaku tidak terpenjara,
aku orang bebas!"
Tak sanggup Goblek menahan
kekesalannya. Tak biasanya, pemahaman-pemahaman Karto tak bisa diterima
nalarnya.
"Tubuh Bapak memang merdeka,
tapi jiwa Bapak masih terpenjara. Belajarlah dari mereka, Pak, dari seniman-seniman
tradisi itu. Belajarlah bagaimana mereka mengikhlaskan dirinya terhadap apa
saja, tanpa ambisi yang dipaksakan. Belajarlah memaknai cinta dari
mereka."
"Kau pikir aku tak memahami
cinta? Cintalah yang membawaku pada ambisi. Ingatlah itu, Karto!"
"Cinta itu sudah teracuni,
Pak Goblek yang terhormat. Bukanlah cinta kalau di dalamnya berisi kepentingan
dan keinginan untuk kebahagiaan diri. Kita tak perlu menunjukkan cinta kepada
apa dan siapa pun yang kita cinta. Janganlah cinta itu dibentuk sesuai dengan
keinginan kita. Biarlah cinta yang bekerja dalam diri kita, untuk mereka.
Dengan cinta juga, bebaskanlah penjara-penjara jiwa Bapak yang terpenjara oleh
cinta."
"Jangan sok pintar di
depanku, Karto!"
Goblek berdiri. Matanya memerah.
Amarahnya memuncak.
"Pergi kau, Karto!"
hardik Goblek.
"Saya akan pergi, Pak, tapi
tidak pernah benar-benar meninggalkan Bapak."
Lama Karto menatap Goblek, lalu
memejamkan mata. Ia mengheningkan diri, membiarkan sunyi bekerja di dalam
dirinya, lalu melangkah meninggalkan Goblek yang bergetar dikuasai amarah. Di
belakangnya, rombongan seniman tradisi mengiringi langkahnya, lalu lenyap
bersama malam yang memekat.
Goblek hanya bisa termenung. Kini
ia benar-benar sendiri. Karto yang telah mendampinginya selama bertahun-tahun
tak lagi berada di sisinya.
"Persetan denganmu, Karto!"
hardiknya
Ia menyeka pandang. Genangan yang tercipta dari liurnya mulai
merangsek naik. Wajahnya memucat. Tak satupun ia temukan orang di sekelilingnya.
"Dimana kalian? Dimana
kalian yang selalu membelaiku dengan mimpi indah? Aku butuh kalian!"
teriak Goblek, lalu hanyut tersapu banjir liurnya sendiri.
Dusun Senja, pertengahan Agustus
2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar